Perintah Pertama Pemerintah Militer Jepang Saat Masuk ke Indonesia

Buku-buku sejarah Indonesia menyebutkan bahwa Jepang masuk ke Indonesia selama lebih kurang 3,5 tahun. Pada periode tersebut dikisahkan militer Jepang menguras habis segala potensi yang ada di Indonesia demi pemenuhan kebutuhan Perang Pasifik (Perang Dunia II) melawan pasukan Sekutu. Dalam kondisi seperti, walhasil, rakyat pribumi mengalami penderitaan yang berat. Bahkan, penderitaan itu disebut-sebut bisa menyamai penderitaan panjang saat Pemerintah Hindia Belanda (zaman kolonial).

Namun, tahukah anda, bahwa sebenarnya bunyi resmi pertama yang keluar dari Pemerintah Militer Jepang sangatlah jauh dari kesan penderitaan yang menyeraman tersebut.

Perintah Pertama Pemerintah Militer Jepang Saat Masuk ke Indonesia

Perintah pertama dari Pemerintahan Militer Jepang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintah militer di Nusantara hanya bakal berlangsung selama beberapa waktu demi menjaga ketertiban. Perintah resmi pertama tersebut tertuang dalam Undang-undang No. 1, Pasal 1, Tahun 1942, yang berbunyi: “Balatentara Nippon melangsoengkan pemerintahan militer sementara waktoe di daerah-daerah jang telah ditempati, agar soepaja mendatangkan keamanan jang sentosa dan segera” [Kan Po 2602/1942].

Setelah beberapa waktu, pemerintah militer Jepang akan digantikan dengan pemerintah sipil. Perintah resmi perdana tersebut diseriusi oleh Kemerinterian Perang Jepang di Tokyo yang mengirim rombongan kedua yang terdiri atas para ahli di bidang pejabat pemerintah dan orang-orang berpendidikan dalam bidang ekonomi dan hukum. Para ahli inilah yang rencananya akan menggantikan pemerintah militer dalam tugasnya mengatasi berbagai urusan kemasyarakatan. Sayangnya, rombongan para ahli tersebut tidak pernah menginjakkan kaki di Indonesia. Pasukan Sekutu berhasil mengkaramkan kapal yang mereka tumpangi dengan torpedo.

Sumber:
Mencatat Jepang

[Sejarah Dunia] Serangan Jepang ke Pearl Harbor

Pada 7 Desember 1941, ratusan pesawat Jepang take off dari enam kapal induk, bergerak meninggalkan Teluk Hitokappu di Kepulaun Kuril sejak 26 November 1941. Pesawat-pesawat Jepang ini menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di Pearl Harbor tanpa pemberitahuan terlebih dulu. Serangan pesawat Jepang ke Pearl Harbor dimulai pukul 07.55 pagi dan berlangsung selama 35 menit. Serangan ini disusul oleh serangan lanjutan satu jam kemudian selama satu jam.

Menurut The History Channel, Jepang mengerahkan 360 pesawat tempur dan pengebom dari kapal-kapal induknya untuk membombardir pangkalan armada laut AS di Pearl Harbor. Kapal-kapal perang AS, yang tengah berlabuh dan dalam keadaan tidak siap, menjadi sasaran empuk. Begitu pula puluhan pesawat Angkatan Udara AS yang masih di parkir saat serangan berlangsung.

[Sejarah Dunia] Serangan Jepang ke Pearl Harbor

Sebenarnya, setelah putaran negosiasi diplomatik dengan Jepang menemui jalan buntu, pimpinan AS saat itu sudah memperkirakan bakal mendapat serangan militer sewaktu-waktu. Namun, mereka tidak langsung menyiagakan Pearl Harbor, yang merupakan benteng pertahanan barat AS di Lautan Pasifik.

Mengapa Jepang menyerang Pearl Harbor? Bagi Jepang, serangan dadakan itu merupakan langkah preventif untuk mencegah militer AS ikut campur atas ekspansi mereka di Asia Pasifik. Saat itu, Jepang sudah berencana menguasai wilayah-wilayah jajahan Inggris, Belanda, dan AS di Asia Tenggara untuk mengamankan pasokan sumber daya alam, seperti minyak mentah, karet, dan lain-lain.

Apalagi pada Juli 1941 AS menghentikan ekspor minyak ke Jepang. Embargo ini menyusul ekspansi militer Jepang ke wilayah jajahan Prancis di Indochina - kawasan yang kini menjadi Vietnam, Kamboja, dan Laos.

Menurut stasiun televisi BBC, serangan di Pearl Harbor menyebabkan lebih dari 2.400 tentara Amerika tewas, di mana 1000 di antaranya tenggelam bersama kapal perang USS Arizona yang hancur dibom. Serangan tersebut juga menghancurkan lima kapal perang besar yang lain, 112 kapal kecil, dan 164 pesawat udara.

Namun Jepang tidak berhasil menghancurkan semua kekuatan militer AS di Pearl Harbor. Tiga kapal induk Amerika pada saat pengeboman berlabuh di tempat lain.

Sehari setelah serangan ke Pearl Harbor, Presiden Franklin Roosevelt mengumumkan perang AS terhadap Jepang. Namun hancurnya armada AS di Pearl Harbor membuat invasi Jepang ke Asia Tenggara tidak terbendung lagi.

Hanya dalam waktu kurang dari satu tahun, hampir seluruh wilayah Asia Pasifik jatuh ke tangan Jepang. Serangan Jepang ke Pearl Harbor menjadi pemicu keterlibatan militer AS dalam Perang Dunia Kedua, baik di Eropa maupun di Pasifik.

Sumber

Pertempuran Terbrutal di Perang Dunia II Adalah Pertempuran Iwo Jima

Pertempuran Iwo Jima tercatat sebagai salah satu pertempuran paling brutal dan berdarah dalam perang Pasifik. 6.800 orang tentara Amerika dan sekitar 20.000 tentara Jepang tewas untuk memperebutkan pulau kecil ini.

Si Tangguh Simo Häyhä

Sniper dengan catatan korban paling tinggi dalam Perang Dunia II adalah Simo Häyhä dari Finlandia. Total catatan korbannya adalah 542 (confirmed). Ia membunuh korban-korbannya tersebut hanya dalam waktu kira-kira 100 hari saja selama Perang Musim Dingin melawan agresi Uni Soviet (Desember 1939 – Maret 1940), atau rata-rata 5 orang korban per hari.

Sniper Tertangguh di Perang Dunia II

Rekor tembakan terjauh yang mematikan dalam Pe­rang Dunia II dipegang oleh Matthäus Hetzenauer, sniper Jerman. Rekor ini dicatat dalam sebuah operasi di Uni Soviet. Ketika itu, ia membunuh sasarannya dari jarak 1100 meter dengan senapan Mauser Karabiner 98k (Kar98k) kaliber 7,92 mm.

Sniper Wanita Terhebat Selama Perang Dunia II

Selama Perang Dunia II, Uni Soviet memiliki prajurit yang berstatus sebagai penembak jitu (sniper) lebih banyak daripada yang dimiliki negara-negara lain digabung menjadi satu.

Negara Paling Boros Peluru

Amerika menjadi negara yang paling boros peluru selama Perang Dunia II. Hanya dalam waktu kurang lebih 1 tahun (dari D-Day hingga berakhirnya perang) di front Eropa saja, tentara-tentara Amerika menembakkan lebih dari 1 milyar butir peluru. Ini hanya mencakup semua peluru yang ditembakkan pasukan Angkatan Darat, mulai dari pistol, senapan, senapan mesin, tank, artileri, bazooka, dll, dan belum termasuk peluru yang ditembakkan pesawat fighter dan penyerang darat. Atau rata-rata sekitar 3,5 juta butir peluru per hari.

Penyumbang Tentara Terbanyak

India menjadi penyumbang tentara terbanyak untuk pihak Sekutu selama Perang Dunia II. Tidak kurang dari 2,5 juta orang tentara India bertempur di semua front, baik Eropa, Afrika, Pasifik, Asia Tenggara, maupun Asia Timur. Ini sekaligus menjadi jumlah tentara sukarelawan terbesar dalam sejarah.

Negara Paling Parah Kerusakannya

Jepang adalah negara yang paling menderita kerusakan paling parah selama Perang Dunia II yang diakibatkan oleh serangan udara. Total korban tewas akibat serangan udara di Je­pang mencapai 668.000 orang, termasuk korban tewas akibat bom atom di Hiroshima-Nagasaki. Berikutnya adalah Jerman dengan korban tewas mencapai 593.000 orang. Di tempat ketiga adalah Inggris dengan korban tewas 60.400 orang. Termasuk korban akibat serangan roket V-1 dan V-2 Jerman. Termasuk juga di antaranya sekitar 40 orang pejalan kaki di kota London yang tewas karena ditabrak mobil ketika terjadi pemadaman lampu tiba-tiba pada malam hari saat terjadi serangan udara Luftwaffe).