Sejarah Perkembangan PKI (Partai Komunis Indonesia)

"Darah itu merah jenderal!" Demikian nulikan kalimat yang dibilang salah seorang anggota PKI dalam film G/30/S/PKI.

Tragedi penuh darah terakhir tersebut nampaknya memang membentuk citra partai ini menjadi buram. Sejarah telah mencatatnya, setidaknya ada tiga peristiwa yang terjadi atas nama partai ini, yakni adalah pemberontakan PKI 1926/1927, pemberontakan PKI 1948 di Madiun, dan terakhir pemberontakan PKI 1965 yang terkenal dengan sebutan G-30/S/PKI.

Nampaknya citra pemberontakan memang sudah lekat meresap pada partai yang berdasarkan paham komunis ini.

Sejarah Perkembangan PKI (Partai Komunis Indonesia)

Sejarah Perkembangan PKI (Partai Komunis Indonesia)
Cikal bakal Partai Komunis Indonesia (PKI) bermula dari kedatangan Sneevliet—seorang anggota SDAP (Partai Sosialis di Belanda) ke bumi Hindia Belanda sekira 1913-1914. Di mana ia kemudian mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereniging (ISDV) dan menginfiltrasi ke dalam tubuh Sarekat Islam (SI). Hingga akhirnya pecah menjadi SI putih dan SI merah untuk melaksanakan disiplin partai yang melarang keanggotaan rangkap. Pada Mei 1920 kongres ISDV di Semarang memutuskan mengganti nama partai menjadi Partai Komunis Hindia (PKH). Semaun terpilih menjadi Ketuanya. Pada 1924 PKH diubah kembali namanya menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Keradikalan partai ini memang tak bisa dibendung pemerintah Hindia Belanda. Pada November 1926 PKI melakukan serangkaian revolusi melawan pemerintah di daerah Jawa Barat dan Sumatera Barat. Sekaligus pula mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Pemberontakan berhasil ditumpas oleh penguasa kolonial. Ribuan kadernya dibunuh lainnya dibuang ke Boven Digul. Pada 1927 pemerintah melarang partai ini sekalian ideologinya. Para kadernya hanya bisa bergerak underground hingga memasuki masa kemerdekaan. PKI muncul kembali pada 1945, setelah dikeluarkannya maklumat mengenai pendirian partai tanggal 3 November 1945. Muso menjadi ketuanya saat itu dan berhasil menggalang kekuatan massanya.

Tiga tahun kemudian, yaitu pada Februari 1948, terjadi kongkalikong. Indonesia belum bisa berdaulat jika parlemen masih diisi oleh orang-orang kiri. Maka terjadilah upaya penekanan terhadap orang-orang di partai ini. PKI pun melakukan perlawanan. Upaya ini dianggap sebagai upaya pemberontakan. Beberapa orang PKI ditangkap dan Muso mati tertembus peluru aparat. Sisanya bersembunyi di berbagai daerah. Selama beberapa saat gerak langkah PKI terasa berhenti, namun setelah keluar pernyataan yang diumumkan oleh Mr. Soesanto Tirtoprodjo (Menteri Kehakiman), para anggota PKI berani keluar dari tempat persembunyiannya.

Alimin—seorang tokoh tua, diangkat menjadi ketua PKI pengganti Muso. Ia kemudian yang mengumpulkan anggota-anggotanya yang tercerai berai. Menggalang persatuan dan membentuk kader-kader yang berkualitas. Ia merupakan tokoh penting pasca Madiun 1948 itu. Di tangannya citra buruk PKI berangsur-angsur dihilangkan. Namun langkahnya diganjal oleh D.N. Aidit dari kelompok muda, yang menganggapnya bekerja terlalu lamban. PKI terkenal revolusioner dan Aidit ingin mempertahankan hal tersebut. Pada 7 Januari 1951 Alimin digusur oleh D.N. Aidit.

Ketika PKI berada di dalam genggamannya, jiwa partai kembali berubah. PKI berjalan dengan demikian cepat. Pertengahan 1951 PKI memprakarsai sejumlah pemogokan buruh. PKI diganjal kembali oleh pemerintah. Namun hal tersebut bersifat sementara, renggangnya hubungan Masyumi dengan PNI, membuat PKI mendekati PNI untuk memperoleh dukungan pemerintah. Sejak saat itu basis massa PKI berkembang dengan sangat cepat. Jumlah 3.000-5.000 anggota (1950) membengkak menjadi 165.000 dalam waktu empat tahun (1954). Pada 1959 naik lagi menjadi 1,5 juta jiwa. Pada pemilu 1955, PKI berhasil memperoleh 16 persen suara dan masuk dalam daftar empat besar partai besar pada waktu pemilu.

Selama rentang waktu 1955-1964 PKI mendapat banyak kemajuan. Pada 1965 jumlah massa PKI meningkat menjadi 3 juta jiwa. Partai ini kemudian ditahbiskan menjadi partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan Tiongkok. Pada 1962 PKI menggabungkan dirinya sebagai bagian dari pemerintah. Beberapa orangnya sempat menjabat di pemerintahan. Namun usaha ini terjegal, menjelang berakhirnya masa kekuasaan Soekarno, PKI kembali terlibat tragedi berdarah yang dikenal dengan pemberontakan G/30/S/PKI. Setelah jatuhnya kekuasaan Soekarno dan naiknya Soeharto, partai ini dilarang muncul kembali berdasarkan keputusan TAP MPRS/1966. Hingga kini perdebatan mengenai partai ini masih terus berlangsung.[]

------
Referensi
I. Buku
Marwati Djoened Poesponegoro, dkk., Sejarah Nasional Indonesia V, Jakarta: Departemen Pendidikan dan kebudayaan (Balai Pustaka), 1993.
Subhan Sd., Langkah Merah: Gerakan PKI 1950-1951, Yogyakarta: Bentang, 1996.

II. Internet
http://www.wikipedia.org.
http://www.marxist.com.

Tokoh Sejarah Indonesia: Sjahrir, Si Kancil dari Utara

Kancil demikian julukan disematkan kawan-kawan pada dirinya. Lelaki itu bernama lengkap Soetan Sjahrir, lahir pada 5 Maret 1909 di Padang Panjang, Medan, saat gejolak pergerakan mulai bergeliat di Hindia Belanda. Sebagai orang yang lahir dalam zaman pergerakan, ia sempat merasakan bangku pendidikan yang dilaluinya melalui Europesche Lagere School (ELS)—setingkat dengan SD, pada 1923. Pada 1926 melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Medan. Kemudian pada 1929 melanjutkan ke Algeemene Middelbare School (AMS) di Bandung. Lalu bangku kuliah dirasakannya di Fakultas Hukum Universitas Amsterdam di Belanda. Pun demikian Sjahrir tak hanya seorang siswa yang menyibukkan diri dengan buku-buku pelajaran, ia aktif dalam klub diskusi di sekolah dan aksi sosial pendidikan melek huruf gratis untuk anak-anak keluarga tak mampu di dalam Tjahja Volksunivesiteit.

Tokoh sejarah Indonesia: Soetan Sjahrir ketika pidato
Sjahrir | Uniqpost
Suatu masa pada akhirnya aksi sosialnya itu berubah haluan menjurus ke ranah politik. Ketika pada 20 Februari 1927 ia termasuk dalam salah seorang penggagas berdirinya himpunan Jong Indonesie. Selain itu, sewaktu masih kuliah di Belanda, ia juga aktif dalam Perhimpunan Indonesia (PI) pimpinan M. Hatta. Penghujung 1931 sekawan dengan Mohammad Hatta, ia turut membantu mendirikan PNI Baru (Pendidikan Nasional Indonesia Baru), sempalan PNI bentukan Soekarno yang bubar tahun 1930. Karena kasus ketertiban dan keamanan Hindia Belanda terganggu.

Perkenalannya dengan sosialisme dunia juga diterapkannya di sini, saat berkiprah di pergerakan kaum buruh. Selain dalam forum-forum politik, ia banyak memuat tulisan tentang buruh di Daulat Rakjat. Pada Mei 1933 ia diangkat selaku Ketua Kongres Kaum Buruh Indonesia. Pernah merasakan pengabnya udara Boven Digul ketika ia dinyatakan bersalah telah melanggar besluid gouvernement tertanggal 16 November 1934. Kemudian dipindahkan pada 1936 ke Banda Neira bersama Hatta, hingga dibebaskan persis ketika jatuhnya pemerintahan Hindia Belanda ke tangan Jepang pada 1942.

Sjahrir selalu berupaya membuat Sosialisme sebagai jalan hidupnya dan jalan rakyat banyak. Pun saat ia membentuk Partai Sosialis Indonesia pada 14 Februari 1948. Medio 1942-1945 ia memimpin gerakan underground bersama para pemuda—yang tergabung di dalam persatuan mahasiswa di Jakarta, melawan Jepang yang saat itu berpaham fasis. Setelah Indonesia merdeka, pada 16 Oktober 1945 Sjahrir resmi diangkat oleh pemerintah sebagai Ketua Badan Panitia Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), yang secara legislatif memiliki kekuasaan penuh.

Periode 14 November 1945-27 Juni 1947 Sjahrir membentuk kabinet parlementer. Ia sendiri kemudian duduk dalam posisi Perdana Menteri yang merangkap dua jabatan sekaligus, Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri. Namun pada jaman itu jangan dibayangkan posisi itu enak. Justru sebaliknya, dengan posisi itu nyawa selalu berada dalam bahaya. Ia harus selalu ikut dalam tiap rangkaian arus revolusi 1945 yang sedang bergelora dan membara.

Pada usia yang semakin merangkak senja, Sjahrir masih sempat memimpin Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dibentuknya pada 12 Februari 1948. Tetapi ia kecewa melihat hasil pemilu pertama tanggal 29 September 1955, karena PSI hanya berhasil merebut dua persen suara atau lima kursi di parlemen. Banyak pihak mengatakan bahwa karir politik Sjahrir akan tamat pasca Pemilu tersebut. Terbukti pungkas PSI terhenti pada 1961, karena Sjahrir dan PSI diduga terlibat kasus Komplotan Bali.

Seperti partainya yang mati pada 1961, pada akhirnya karir Sjahrir juga harus terhenti. Pada 16 Januari 1962 ia kembali merasakan busuknya aroma penjara. Kali ini bukan oleh lawannya yang memenjarakannya, melainkan rekan yang pernah seiring-seperjuangan. Habis sudah harapannya dalam percaturan politik Indonesia, pada Juni 1965, ia divonis sakit keras dan harus berangkat ke Zurich, Swiss, untuk mendapat perawatan medis atas titah Soekarno. Pungkas nafasnya terhenti tatkala hari memasuki tanggal 9 April 1966, sekira pukul 07.31 waktu setempat tokoh sejarah Indonesia berangkat ke alam sana dalam damai.

------
Referensi
Rosihan Anwar, Perjalanan Terachir Pahlawan Nasional: Sutan Sjahrir, Djakarta: Pembangunan.
Rudolf Mrazek, Sjahrir: Politik dan Pengasingan di Indonesia, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1996.
http://id.wikipedia.org
http://www.deplujunior.org
http://kepustakaan-presiden.pnri.go.id
http://www24.brinkster.com

Tokoh Sejarah Indonesia: Alimin, The Great Oldman

Sejarah Indonesia memang belum memberi lelaki yang lahir pada 1889 ruang besar bagi namanya untuk menjulang seperti Semaun, Darsono, Muso, dan Aidit. Padahal ia merupakan tokoh lama yang telah bergeliat dalam tahun-tahun awal Partai Komunis Indonesia (PKI) terbentuk. Ia merupakan tokoh sejarah Indonesia serta pejuang rakyat yang aktif dan konsisten sejak masa pergerakan nasional. Ia banyak memberi dukungan kepada generasi muda untuk meneruskan perjuangan. Khususnya masa-masa setelah pemberontakan PKI tahun 1948.

Tokoh sejarah Indonesia Alimin
Alimin | Wikipedia
Sebuah pernyataan mengejutkan dikeluarkan oleh Kementerian Kehakiman Mr. Soesanto Tirtoprodjo mengenai nasib PKI setelah pemberontakan PKI 1948 di Madiun. Kepastian itu mengenai pemerintah tidak akan melarang PKI dan tidak akan menangkap tokoh-tokohnya, kecuali yang melanggar hukum. Kebijakan pemerintah tersebut kemudian disambut positif, terbukti diikuti banyaknya tokoh PKI yang muncul dari tempat persembunyiannya. Salah satunya adalah Alimin bin Prawirjodirdjo[1] —tokoh tua PKI, yang muncul di Yogyakarta. Pada waktu itu kekosongan di kursi kepemimpinan partai karena tewasnya Muso membuatnya mampu mengisi jabatan itu. Apalagi ditambah dia memiliki sikap besar seorang pemimpin, praktis membuat namanya menonjol, ia pun dihormati oleh generasi muda komunis Indonesia. Hal ini memberikan Alimin peluang untuk memimpin PKI.

Pada waktu ia menjabat, hal pertama yang dihadapinya di dalam partai adalah hancurnya struktur partai akibat pemberontakan Madiun. Konsekuensi lainnya adalah mengenai citra buruk partai. Begitu berada di bawah kendalinya, langkah awal yang diambil adalah menghimpun kembali para anggota dari awal dan mengkadernya dengan selektif. Di samping itu Alimin juga menyusun kembali Sekretariat Central Comite (CC) dan menandai kemunculan PKI dengan susunan Sekretariat CC tersebut yang disiarkan pada 10 Juni 1950. Susunan tersebut terdiri dari Sukisman (mantan Sekjen Pesindo), Djaetun (mantan Digulis), dan Ngadiman. Akan tetapi secara praktis kegiatan partai belum ada kecuali pekerjaan di parlemen yang dilakukan oleh Tan Ling Djie. [baca tokoh sejarah Indonesia lainnya]

Dalam kondisi partai yang belum memiliki kegiatan inilah, Alimin mulai mengupayakan langkah kongkret guna menghapus citra buruk partai. Demi mengembalikan kekuatan partai, ia menerapkan kebijakan yang lebih ketat dengan memperhitungkan kualitas para anggotanya. Ia membangun partai kecil dengan membangun pondasi yang kuat disertai dukungan kader yang cakap. Alimin membentuk PKI sebagai partai kader.

Menggunakan strategi seperti yang diterapkan Sneeveliet untuk menginfiltrasi SI, Alimin menggunakan metode yang sama. Strategi infiltrasi yang diterapkan Alimin terbukti cukup jitu. Ia memerintahkan kader partainya masuk ke berbagai organisasi kepemudaan, buruh, petani, dan wanita. Namun dalam upayanya membangun kembali kekuatan PKI, justru datang halangan dari kelompok muda. Ada perbedaan visi antara kelompok tua yang diawaki Alimin dengan kelompok muda yang dimotori DN. Aidit. Perbedaan ini semakin menguat dengan munculnya friksi di kedua kubu, yang menjelma menjadi perebutan pengaruh.

Pada 7 Januari 1951 terjadi suksesi DN. Aidit terhadap kepemimpinan tua. Alimin dijungkal. Habis sudah perannya sebagai tokoh utama. Posisinya di politbiro pun digusur dengan alasan Alimin terganggu kesehatannya pada Oktober 1953. Setelah itu PKI menjalankan garis politik dengan cara memobilisasi kekuatan massa dan pengorganisasian. Berdasarkan SK Presiden No. 163 Tahun 1964 tertanggal 26 Juni 1964, tokoh sejarah Indonesia Alimin dicatatkan sebagai salah satu Pahlawan Nasional Indonesia.[2]
 
------
Rujukan
[1] Subhan Sd., Langkah Merah: Gerakan PKI 1950-1951, Yogyakarta: Bentang, 1996.
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Alimin

Cerpen Horor Terpendek di Dunia

Cerpen horor terpendek di dunia hanya terdiri dari dua kalimat. Gokil?

'The last man on Earth sat alone in a room. There was a knock on the door'.

Kronik Sejarah Sukarno Pahlawan Nasional [Part 1]

Kronik Sejarah Sukarno Pahlawan Nasional [Part 1]

Kronik Sejarah Sukarno Pahlawan Nasional

6 Juni 1901

Hari ini Soekarno dilahirkan di Blitar, Jawa Timur. (Cindy Adam, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat, YBK dan Medpress, 2007, hlm. 14-15)

10 Juni 1921

Hari ini Soekarno merampungkan studinya di Hogere Burger School (HBS)—atau setingkat SMA di Surabaya. Dari HBS Soekarno melanjutkan studi di jurusan Insyinyur Sipil Technische Hooge School (THS) atau setingkat Sekolah Tinggi Teknik—sekarang Institut Teknologi Bandung (ITB)—di Bandung, Jawa Barat. (SSB, 290)

19 Juni 1924

Hari ini, bersama Prawiro Hadjosasmito, Soekarno didaulat masuk dalam jajaran pengurus selaku komisaris. Sekaligus menandai pendirian SR (Sarikat Rakjat), yang rapatnya diadakan di Purwodadi, Jawa Tengah. Undangan rapat disampaikan lewat tulisan, kemudian disebarkan ke seluruh penjuru kota. Lantaran pengumuman memakai bende tidak lagi diperbolehkan oleh asisten residen. Diterangkan ketuanya, Prawoto, SR memiliki tujuan yang berbeda dengan SI putih Tjokroaminoto. Berikut susunan pengurus SR Purwodadi: Ketua Prawoto, Wakil Ketua Soedjandi, Sekretaris Prapto, Bendahara Prawirodihardjo, Komisaris Soekarno dan Prawiro Hardjosasmito. (Sinar Hindia, 21 Juni 1924)

1926

Tahun ini Soekarno mendirikan sebuah klub belajar di Bandung bernama Algemeene Studieclub. Tujuannya, hampir mirip dengan Indonesische Studieclub di Surabaya bentukan Dr. Soetomo, ialah untuk menggalang persatan nasional. (Istimewa)

1926

Soekarno menulis artikel bertitel, “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme”, di majalah Soeloeh Indonesia Moeda. Di mana, artikel itu menyoroti tiga ideologi besar yang tengah berbiak di tengah-tengah masyarakat, terutamanya kaum terpelajar Indonesia. Dalam artikelnya, Soekarno berkeyakinan, tiga ideologi itu mempunyai potensi saling melengkapi, walaupun banyak perbedaan di antaranya. Oleh karena itu, pun ia meyakini, jalan keinsyafan untuk hormat menghormati satu dengan yang lain merupakan jalan menuju “Persatuan jang membawa kita kearah ke-Besaran dan ke-Merdekaan”. (Soeloeh Indonesia Moeda, 1926)

17 Januari 1926

Hari ini, dalam sebuah rapat propaganda terbuka Algemeene studieclub (kelompok belajar umum) di clubgebouw (gedung pertemuan) Mardi Beksa Irama, Bandung, Jawa Barat, Soekarno dan Anwari didaulat menjadi sekretaris satu dan dua. Rapat propaganda terbuka yang dipimpin Kadmirah Karnadidjaja, dihadiri sekurang-kurangnya 90 orang—wakil dari 18 perhimpunan dan tokoh-tokoh ternama. Tujuannya rapat ini ialah untuk mempersatukan perhimpunan-perhimpunan yang ada, demi meraih satu cita-cita. Berbarengan dengan itu, diadakan pemilihan susunan pengurus baru. Berikut nama-nama pengurus baru itu: Ketua Mr. Iskaq, Wakil Ketua Putuhena, Sekretaris Satu dan Dua Soekarno dan Anwari, dan Bendahara Safioedin. (Hindia Baru, 25 Januari 1926)

Bersambung ke Kronik Sejarah Sukarno Pahlawan Nasional [Part 2]